Selasa, 23 Agustus 2011

Elang dan Kalkun

0 komentar

Konon disatu saat yang telah berlalu, Elang dan Kalkun adalah burung yang menjadi teman yang baik. Dimanapun mereka berada, kedua teman selalu pergi bersama-sama. Tidak aneh bagi manusia untuk melihat Elang dan Kalkun terbang berseblahan melintasi udara bebas. Suatu hari ketika mereka terbang, Kalkun berbicara pada Elang, “Mari kita turun dan mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Perut saya sudah keroncongan nih!”. Elang membalas, “Kedengarannya ide yang bagus”.

Jadi kedua burung itu melayang turun ke bumi, melihat beberapa binatang lain sedang makan dan memutuskan bergabung dengan mereka. Mereka mendarat dekat dengan seekor sapi. Sapi ini tengah sibuk mekan jagung, namun sewaktu memperhatikan ada Elang dan Kalkun sedang berdiri dekat dengannya, Sapi berkata, “Selamat datang, silakan cicipi jagung manis ini”. Ajakan ini membuat kedua burung ini terkejut. Mereka tidak biasa jika ada binatang lain berbagi soal makanan dengan mereka dengan mudahnya. Elang bertanya, “Mengapa kamu bersedia membagikan jagung milikmu bagi kami?”. Sapi menjawab, “Oh, kami punya banyak makanan di sini. Tuan Petani memberikan bagi kami apapun yang kami inginkan”.

Dengan undangan itu, Elang dan Kalkun menjadi terkejut dan menelan ludah, lalu ikut makan dengan sapi. Sebelum selesai makan, Kalkun menanyakan lebih jauh tentang Tuan Petani. Sapi menjawab, “Yah, dia menumbuhkan sendiri semua makanan kami. Kami samasekali tidak perlu bekerja untuk makanan”. Kalkun tambah bingung, “Maksud kamu, Tuan Petani itu memberikan padamu semua yang kamu ingin makan?”. Sapi menjawab, “Tepat sekali! Tidak hanya itu, dia juga memberikan pada kami tempat untuk tinggal”. Elang dan Kalkun menjadi syok berat! Mereka belum pernah mendengar hal seperti ini. Mereka selalu harus mencari makanan dan bekerja untuk mencari naungan.

Ketika datang waktunya untuk meninggalkan tempat itu, Kalkun dan Elang mulai berdiskusi tentang situasi ini. Kalkun berkata pada Elang, “Mungkin kita harus tinggal di sini. Kita bisa mendapatkan semua makanan yang kita inginkan tanpa perlu bekerja. Dan gudang yang di sana cocok dijadikan sarang seperti yang telah pernah kita bangun. Disamping itu saya telah lelah bila harus selalu bekerja untuk dapat hidup”. Elang juga goyah dengan pengalaman ini, dan dia menjawab, “Saya tidak tahu tentang semua ini. Kedengarannya terlalu baik untuk diterima. Saya menemukan semua ini sulit untuk dipercaya bahwa ada pihak yang mendapat sesuatu tanpa memberi imbalan. Disamping itu saya lebih suka terbang tinggi dan bebas mengarungi langit luas. Dan bekerja untuk menyediakan makanan dan tempat bernaung tidaklah terlalu buruk. Pada kenyataannya, saya menemukan hal itu sebagai tantangan yang menarik”.

Akhirnya, Kalkun memikirkan semuanya dan memutuskan untuk menetap, dimana ada makanan gratis dan juga naungan. Namun Elang memutuskan bahwa ia amat mencintai kemerdekaannya dibanding menyerahkannya begitu saja. Ia menikmati tantangan rutin yang membuatnya hidup. Jadi setelah mengucapkan selamat berpisah untuk teman lamanya Si Kalkun, Elang menetapkan penerbangan untuk petualangan baru yang ia tidak ketahui bagaimana kedepannya. 


Semuanya berjalan baik bagi Si Kalkun. Dia makan semua yang dia inginkan. Dia tidak pernah bekerja. Dia bertumbuh menjadi burung gemuk dan malas. Lalu suatu hari dia mendengar istri Tuan Petani menyebutkan bahwa Hari Raya Thanksgiving akan datang beberapa hari lagi dan alangkah indahnya jika ada hidangan Kalkun panggang untuk makan malam. Mendengar hal itu, Si Kalkun memutuskan sudah waktunya untuk minggat dari pertanian itu dan bergabung kembali dengan teman baiknya, Si Elang. Namun ketika dia berusaha untuk terbang, dia menemukan bahwa ia telah tumbuh terlalu gemuk dan malas. Bukannya dapat terbang, dia justru hanya bisa mengepak-ngepakkan sayapnya. Akhirnya di Hari Thanksgiving keluarga Tuan Petani duduk bersama menghadapi daging Kalkun panggang besar yang sedap.


Apa implikasinya dalam hidup kita?
Ketika kita menyerah pada tantangan hidup dan memilih berada dalam “zona aman”, kita sedang menyerahkan KEMERDEKAAN kita dan kita akan menyesalinya setelah segalanya berlalu dan tidak ada KESEMPATAN lagi.

“Selalu ada keju gratis dalam perangkap tikus”.

Sumber: Majalah M-Times Makassar edisi September – Oktober 2011.

Read more ►

Refleksi: Arah Bangsa

0 komentar
Kecewa melihat aksi anggota-anggota kongres PSSI baru-baru ini. Melihat hal itu terbesit dalam pikiran saya bahwa para revolusioner PSSI tak ada bedanya dengan Pimpinan PSSI terdahulu yang keras kepala dan hanya mementingkan dirinya dan kelompoknya saja. Mereka punya banyak argument yang memang terdengar benar, tapi itu hanya menjadi tameng bagi mereka untuk menutupi bahwa inti dari segala-galanya adalah bahwa mereka hanya mencari kepentigan diri sendiri. Ini menunjukkan bahwa ternyata gerakan revolusi di PSSI tidak membuat PSSI lebih baik dari sebelumnya. Justru membuat keadaan semakin kacau-balau.

Dari kejadian di Kongres PSSI itu saya flashback pada kejadian sekitar 12 tahun yang lalu saat terjadi aksi reformasi di Indonesia. Melihat kenyataan kehidupan berbangsa sekarang ini, saya melihat bahwa reformasi di PSSI sekarang ini tak jauh beda dengan reformasi besar-besaran Indonesia 12 tahun yang lalu. Baru-baru ini salah satu lembaga survey, menyimpulkan bahwa rata-rata rakyat Indonesia ingin kembali lagi ke masa Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto. Mengapa ingin kembali ke masa Orde Baru?? Alasannya sudah bisa diduga, tak lain adalah masalah ekonomi. Masa Orde Baru lalu, Indonesia bahkan sempat dijuluki macannya Asia karena pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat. Di Orde Baru keamanan terjamin, tidak ada aksi radikal dari kelompok-kelompok tertentu. Sekarang, di Era Reformasi ini justru sebaliknya. Kita tidak diperhitungkan lagi di kawasan Asia. Perekonomian bangsa belum bisa lepas dari efek krisis moneter pada 1998. Banyak BUMN yang dijual ke pihak asing (misalnya Indosat yang dijual ke perusahaan telekomunikasi Qatar). Terjadi banyak aksi radikalisme di banyak daerah. Parahnya lagi, sekarang ini rasa nasionalisme warga Indonesia semakin berkurang.

Bicara soal nasionalisme, saya teringat pada salah satu Bapak Pendiri Bangsa, yakni Bung Karno. Bicara-bicara soal Bung Karno, tentu pastinya tak lepas dari era kepemimpinannya di Orde Lama yang juga direvolusi dan akhirnya diganti dengan Orde Baru. Saya pernah melihat tayangan di TV (tepatnya di Metro TV, pada acara dalam rangka kebangkitan nasional) yang dimana tayangan itu menunjukkan bahwa jumlah utang negara di Era Orde Baru lebih besar dibanding di Era Orde Lama. Di Era Orde Baru rakyat mengeluh akan kepemimpinan Soeharto yang diktator. Jadi bisa disimpulkan, revolusi dari Era Orde Lama ke Orde Baru tetap saja menimbulkan masalah bahkan membuat jumlah masalah yang lebih banyak lagi. Bagaimana tidak, di Era Orde Baru banyak sekali terjadi pelanggaran HAM. Banyak nyawa orang tak berdosa yang dikorbankan dengan alasan menjaga stabilitas negara. Hal inipun yang disesali oleh Soe Hok Gie, mahasiswa UI yang ikut andil dalam demonstrasi revolusi kala itu. Dalam bukunya,  Catatan Sang Demonstran, Gie bercerita bahwa dia menyesal telah membiarkan Orde Baru berkuasa di Indonesia. Di awal Era Orde Baru banyak terjadi pembunuhan massal kepada para pengikut PKI kala itu. Terjadi pembunuhan yang semena-mena. Dan hal ini menunjukkan bahwa revolusi kala itu gagal mencapai salah satu tujuannya yakni untuk mencipkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sudah terjadi dua kali revolusi di negara ini. Di tiap revolusi pastinya terjadi pergantian era. Terjadi pergantian generasi dalam susunan struktural negara, baik di eksekutif, lagislatif maupun yudikatif. Tapi persoalan negara semakin bertambah-tambah. Bahkan parahnya, bangsa ini semakin kehilangan jati dirinya. Nasionalisme tinggi yang ditunjukkan bangsa ini pada zaman penjajahan sampai pada awal kemerdekaan semakin lama semakin pudar di generasi-generasi selanjutnya. Indonesia dijerat akan perilaku apatis dari warga negaranya sendiri. Era Orde Baru yang dikenal sebagai Era KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) tak jauh beda dengan Era Reformasi. Korupsi tetap saja merejalela meskipun sudah ada KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Sepertinya KKN sudah “mengakar” dan menjadi budaya di negara ini.

Pertanyaannya sekarang, mengapa hal itu terjadi?? Mengapa keadaan bangsa ini tidak pernah berubah walaupun telah terjadi lima kali pergantian kekuasaan/presiden?? Terjadi perubahan struktural negara, tapi perilaku Pemerintah (eksekutif), DPR (legislatif), dan hakim/jaksa (yudikatif) tidak juga berubah. Zaman berubah kok menjadi lebih susah??

Dari pertanyaan – pertanyaan perenungan di atas, saya bisa simpulkan bahwa REVOLUSI YANG TERJADI SELAMA INI HANYA REVOLUSI YANG SIA – SIA. REVOLUSI MENJADI SIA – SIA BUKAN KARENA TUJUAN DARI REVOLUSI INI YANG SALAH, tapi karena INKONSISTENSI SI REVOLUSIONER ITU SENDIRI. Orang-orang dulunya idealis terhadap tujuan revolusi tersebut tidak konsisten akan tujuan revolusinya dahulu. Ketika kekuasaan telah menjadi miliknya, dia terbuai akan kenyamanan dan keserakahan dari kekuasaan tersebut. Tanggangung jawab sebagai penenentu kebijakan-kebijakan negara di pundaknya malah dijadikan sebagai ajang pemenuhan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Jadi jangan heran jika pada tahun ’98 mahasiswa yang dulunya sangat idealis menurunkan Soeharto justru ketika dia telah menjadi anggota DPR/DPRD atau masuk dalam pemerintahan di Era Reformasi ini tidak menghasilkan apa-apa.

Dimasa pemilu maupun pemilukada, banyak janji yang terucap tapi hanya sedikit yang terealisasi. Rakyat dibodoh-bodohi. Hufftt… bangsa ini benar-benar terbelenggu akan kemunafikan belaka. Mengapa seakan-akan kurang sekali orang yang bisa dipercaya yang bisa membawa bangsa ini menuju keadaan yang lebih baik??

Salah satu jawabannya menurut hemat saya adalah sistem pendidikan moral / sistem kaderisasi yang salah di negara ini. Saya melihat hal itu terjadi di kampus saya. Masih mahasiswa saja kita sudah diajar untuk curang, membodohi-bodohi dan pintar beretorika dalam membuat hal yang benar menjadi salah dan sebaliknya. Pada saat prosesi pengkaderan mahasiswa baru (maba), maba-maba yang masih polos menjadi santapan para senior-senior pengkader dalam mendapatkan keuntungan dirinya. Proses pembodohan nampaknya mulai dipraktekkan dalam proses kaderisasi tersebut. Dimana si kuat (senior) membodohi si lemah (maba). Demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan mahasiswa bahkan ada beberapa yang ditunggangi oleh kepentingan pihak tertentu. Mahasiswa kehilangan idealisme yang sejatinya yakni yang berlandaskan kemurnian. Makanya jangan heran jika kelak mehasiswa-mahasiwa yang seperti itu menjadi penentu kebijakan, mereka tidak akan membuat perubahan ke arah yang lebih baik, yang bisa terjadi justru sebaliknya.

Bagaimana bisa menjadi generasi-generasi yang membawa pembaharuan bagi bangsa jika selama mahasiswa saja sudah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu, misalnya nyontek agar bisa memperoleh nilai yang bagus. Dalam prosesi pengkaderan melakuakan pembodohan terhadap maba (kaum lemah). Melakukan demonstrasi “berlebihan” yang membuat jalan macet, menganggu dan merusak fasilitas umum.

Inilah yang semestinya menjadi perenungan kita bersama, khususnya bagi teman-teman, pemuda-pemudi bangsa ini sebagai bagian dari masa depan bangsa. Jika kita ingin mengubah bangsa ini ke arah yang lebih baik maka perubahan tersebut mesti dimulai dari diri kita sendiri, dimulai dari hal-hal yang kecil, dan mulailah saat ini (kalimat terakhir ini dikutip dari AA Gym hehe..).

Jayalah Indonesia!!!

Read more ►

Senin, 18 April 2011

Impian & Cita-Cita

0 komentar
Okay, untuk posting kali ini saya ingin berkicau tentang Impian. Einstein bilang orang cerdas itu dilihat dari seberapa besar imajinasinya. Hmm... saya suka itu.

Ketika kecil, di sekolah pak guru dan bu guru tentu sering menanyakan "apa cita-citamu?"
Jarang, bahkan saya sendiri gak pernah ditanya "apa impianmu?"
Loh, apa bedanya cita-cita dan impian? Kenapa dipermasalahkan?

Sebenarnya saya sendiri senang dengan sesuatu yang simpel. Gak suka memperrumit. Tapi, terkadang perbedaan yang sepele berpengaruh terhadap langkah-langkah kedepannya. Begitu pula tentang kata-kata impian dan cita-cita. Sekilas sama, tapi beda (maksudnya???).

Langsung saja menurut ilmu sotoy saya, cita-cita itu merupakan segala keinginan yang dibatasi oleh ruang dan waktu, sedangkan Impian adalah keinginan yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Atau sederhananya lagi dapat dibilang, CITA-CITA ITU KEINGINAN YANG MUNGKIN. IMPIAN ITU KEINGINAN YANG (TAMPAK) TIDAK MUNGKIN. (haha.. ribet ya, bodo ah)

Nah, ngobrol soal kemungkinan, pernah denger kata-kata ini gak?
"Jenius itu adalah orang-orang yang dapat melihat kemungkinan diantara banyaknya ketidakmungkinan"
Itu salah satu kata-kata einstein juga.

Nah, jika disubstitusikan dengan pengertian impian (menurut sotoy saya diatas itu), bisa disimpulkan bahwa:
Impian hanya diwujudkan oleh orang jenius.

Okay nih biar lebih pusing :
Impian => keinginan yang (tampak) tidak mungkin
Jenius => melihat kemungkinan diantara ketidakmungkinan

Dengan berfikir jenius (melihat kemungkinan diantara ketidakmungkinan), maka definisi impian yang awalnya
=>keinginan yang (tampak) tidak mungkin
Sehingga berubah menjadi
=>keinginan yang mungkin.

Selanjutnya, ketika impian diiringi usaha dan do'a,
=>impian jadi kenyataan.

Wahaha... impian jadi kenyataan, saya kok bicara keknya gampang bener ya.

Saya sendiri belum berhasil membuktikannya kok. Masih OTW (On The Way).

Saya rasa cukup dulu untuk posting kali ini, mudah-mudahan masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menulis lagi di lain waktu.
Read more ►

Jumat, 11 Maret 2011

Bung Karno Sebagai Guru Bangsa

0 komentar
Di antara banyak predikat yang telah diberikan kepada Bung Karno, patutlah kiranya ia juga dikenang sebagai guru bangsa. Sebagai pencetus maupun komunikator, banyak pemikiran penting telah menjadi sumbangan pendidikan tak terhingga bagi negara-bangsa ini.

Layaknya seorang guru yang cakap, ia mampu menyampaikan gagasan-gagasan penting dengan lancar, penuh imajinasi, dan komunikatif. Di tangannya, topik-topik bahasan yang sebenarnya berat menjadi gampang dicerna, mudah dipahami masyarakat luas.

Ingat, misalnya, saat secara berkala pada tahun 1958-1959 ia memberikan rangkaian "kuliah" guna menjelaskan kembali sila demi sila dari Pancasila sebagai dasar negara, masing-masing satu sila setiap kesempatan "tatap muka." Pada 26 Mei 1958 ia memulai rangkaian itu dengan memberi kuliah tentang pengertian umum Pancasila. Setelah menyampaikan penjelasan tentang berbagai bentuk kapitalisme dan perlawanan terhadapnya, ia menekankan bahwa Pancasila bukan hanya merupakan pandangan hidup, melainkan juga alat pemersatu bangsa.

Kuliah pembukaan itu disusul kuliah-kuliah serupa lain yang biasanya diadakan di Istana Negara dan disiarkan langsung melalui radio ke seluruh penjuru Tanah Air. Berbeda dengan pidato-pidato Bung Karno di depan massa yang biasanya berapi-api membakar semangat rakyat, kuliah-kuliah ini berjalan lebih rileks dan komunikatif.

Dengan kuliah-kuliah itu tampaknya Bung Karno ingin sekaligus mengingatkan, Istana Negara bukan tempat sangar atau sakral yang hanya boleh dimasuki presiden dan pejabat maha penting negeri ini, tetapi Istana milik rakyat, tempat masyarakat belajar mengenai banyak hal, termasuk dasar negara. Ia ingin menjadikan Istana (dan mungkin Indonesia umumnya) sebagai "ruang kuliah" di mana terselenggara proses belajar-mengajar antara masyarakat dan pemimpinnya.

Teoris dan Praksis

Dari teori-teori filsafat dan politik serta acuan-acuan historis yang digunakan dalam mengurai sila-sila Pancasila, tampak pengetahuan Soekarno amat luas dan dalam. Dalam uraian-uraiannya, tidak jarang ia menyitir pikiran Renan, Confusius, Gandhi, atau Marx. Dengan begitu, ia seolah ingin menunjukkan dan memberi contoh, tiap warga negara perlu terus memperluas pengetahuannya. Meski ia sendiri sebenarnya dididik sebagai orang teknik, namun amat akrab dengan ilmu-ilmu sosial, terutama filsafat, sejarah, politik, dan agama.

Dalam salah satu kuliahnya Bung Karno menyinggung kembali pertemuan dan dialognya dengan petani miskin Marhaen. Dialog sendiri sudah berlangsung jauh sebelumnya, tetapi ia masih mampu mengingat dan menggambarkan amat jelas. Ini menandakan, Soekarno menaruh perhatian pada perjumpaannya dengan wong cilik, rakyat jelata, dan ingin menjadikannya sebagai titik tolak perjuangan bersama guna membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu kemiskinan dan ketidakadilan. Baginya retorika memperjuangkan rakyat yang tidak disertai perjumpaan-perjumpaan langsung dengan rakyat adalah omong kosong.

Dengan kata lain, sebagai guru bangsa ia tak suka hanya berkutat di dunia teori, tetapi juga menceburkan diri ke realitas kehidupan sehari-hari bangsanya. Bung Karno selalu berupaya keras mempertemukan "buku" dengan "bumi," menatapkan teori-teori sosial-politik dengan realitas keseharian manusia Indonesia yang sedang ia perjuangkan.

Bung Karno terus mempererat kaitan teori dan praksis, refleksi dan aksi. Mungkin inilah salah satu faktor yang membedakannya dari pemimpin lain, baik yang sezamannya maupun sesudahnya.

Perlu diingat, lepas dari apakah orang setuju atau tidak dengan uraian dan gagasannya, satu hal tak dapat diragukan tentang Soekarno: ia bukan seorang pejabat yang korup. Sulit dibayangkan, Soekarno suka menduduki posisi-posisi tertentu di pemerintahan karena ingin mencuri uang rakyat atau menumpuk kekayaan untuk diri sendiri.

Perjuangan Soekarno adalah perjuangan tulus, yang disegani bahkan oleh orang-orang yang tak sepaham dengannya. Karena itu, tak mengherankan betapapun ruwetnya ekonomi Indonesia di bawah pemerintahaannya, tak terlihat kecenderungan pejabat-pejabat pemerintah di zaman itu yang tanpa malu korupsi atau berkongkalikong menjual sumber-sumber alam milik rakyat.

Absennya Guru-Guru Lain

Bagaimanapun juga, sebagai seorang manusia Bung Karno bukan tanpa kelemahan. Dalam kapasitasnya sebagai pejabat negara, misalnya, ia tampak "menikmati" posisinya sehingga ada kesan ia tak lagi menempatkan diri sebagai seorang pelayan publik dalam tata masyarakat demokratis. Sebagai presiden seharusnya ia menyadari kedudukannya sebagai seseorang yang menjabat sejauh rakyat memberi mandat padanya, itu pun disertai batasan masa jabatan tertentu.

Rupanya Bung Karno tidak terlalu menghiraukan hal itu. Karenanya ketika tahun 1963 diangkat sebagai presiden seumur hidup, ia tidak menolak.

Sebagai seorang guru yang memandang negerinya sebagai sebuah "ruang kuliah" raksasa dan rekan-rekan sebangsanya sebagai "murid-murid" yang patuh, terkesan Bung Karno tak memerlukan adanya "guru-guru" lain. Ia tak keberatan akan keberadaan mereka, tetapi-sadar atau tidak-"gaya mengajar"-nya mendorong tokoh-tokoh lain yang potensial untuk juga menjadi guru bangsa terpaksa menyingkir atau tersingkir.

Kita belum lupa ketika pada 1 Desember 1956 Bung Hatta mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden. Kita juga masih ingat bagaimana orang-orang dekat Bung Karno-seperti Sjahrir, Amir Syarifuddin, Tan Malaka, Moh Natsir, dan lainnya-satu per satu menjauh darinya.

Pada pertengahan 1950-an rupanya perhatian Bung Karno yang begitu besar kepada posisinya sendiri membuatnya kurang menyadari bahwa dampak Perang Dingin telah kian jauh merasuki Indonesia. Kemenangan PKI dalam Pemilu 1955 dan pemilu daerah tahun 1957, misalnya, telah benar-benar mempengaruhi perhatian dan kebijakan para pelaku utama Perang Dingin terhadap Indonesia.

Di satu pihak, Cina dan Uni Soviet menyambut kemenangan itu dengan gembira karena menandakan kian meluasnya komunisme di Indonesia. Di lain pihak, bagi AS dan sekutunya, kemenangan itu meningkatkan ketakutan mereka bahwa Indonesia akan "lepas" dari lingkaran pengaruh Barat. Dalam pola pikiran teori domino, lepasnya Indonesia akan berarti terancamnya kepentingan-kepentingan Barat di Asia Tenggara.

Sedikit demi sedikit panggung ketegangan pun dibangun. Tahun 1965-1966 panggung itu dijadikan arena pertarungan berdarah antara PKI dan unsur-unsur bersenjata yang didukung Barat. Bung Karno sadar, tetapi terlambat. Dengan gemetar ia terpaksa menyaksikan ratusan ribu rakyat yang ia cintai dibantai secara terencana dan brutal.

Sedikit demi sedikit ia dijepit. Akhirnya guru bangsa yang besar ini disingkirkan dari panggung kekuasaan. Ia pun wafat sebagai seorang tahanan politik yang miskin, di negeri yang kemerdekaannya dengan gigih ia perjuangkan.

Akhir hidup Bung Karno memang memilukan. Tetapi ajaran-ajarannya sebagai guru bangsa tetap relevan dan penting untuk negara-bangsa ini. Orang dapat belajar tidak hanya dari apa yang dikatakan, tetapi juga dari tindakan, berikut keunggulan dan kelemahannya. Kita berharap kaum muda negeri ini tak jemu untuk terus belajar dari sejarah, termasuk dari Bung Karno sebagai guru bangsa.

Read more ►

Menembus Setiap Batasan

0 komentar
Posting kali ini saya ingin membahas salah satu hal yang menjadi perenungan saya beberapa hari terakhir ini. Menembus stiap batasan.. Ya ini adalah judul yang saya pilih sebagai reperesentatif dari topik yang akan saya bahas. Batasan yang saya maksudkan dalam artikel ini adalah batasan yang sering orang bilang sebagai sebuah takdir hidup yang telah digariskan, bisa juga batasan yang dilatarbelakangi oleh faktor fisik, keluarga, ekonomi, pengalaman hidup, dan faktor-faktor lain yang dibuat manusia untuk membatasi dirinya, sesamanya dan dianggap sebagai hal yang mesti diterima. Sehingga secara tidak langsung orang-orang telah memberikan sebuah batasan pada dirinya sendiri dan hanya berani bermimpi mencapai hal-hal yang kecil saja.

Tuhan menciptakan manusia dengan cara yang sama. Diberikan hak dan kewajiban yang sama, dan memiliki kodrat atau nilai sama dihadapanNya. Mungkin kita diciptakan dengan bentuk fisik, talenta dan lahir dari keluarga berstatus sosial yang berbeda, tapi bagaimanapun juga smua manusia memiliki nilai yang sama dan kesempatan yang sama untuk menggapai sgala yang diimpikannya.

Impian diawali oleh sebuah visi. Sederhananya, visi adalah bayangan akan suatu kejadian atau pengalaman yang kamu inginkan yang saat ini masih belum terjadi dalam dunia nyata. Setiap orang berhak memiliki visi setinggi, sehebat, seindah, seabsurd apapun. Tidak peduli seberapa menyedihkan kondisi fisikmu, intelektualitasmu maupun status sosialmu saat ini, kamu tetap berhak memiliki VISI YANG BESAR bahwa suatu saat nanti kamu akan berhasil mendapatkan apa yang kamu inginkan dalam hidupmu.

Tidak ada satupun orang yang berhak membatasi visi yang ingin kamu capai dalam hidupmu. Ketika tidak ada lagi hal yang kita harapkan untuk membantu kita menggapai impian hidup maka visilah yang menjadi satu-satunya pegangan untuk menggapai impian tersebut. Oleh sebabnya peliharalah visi itu. Yakinkan dirimu bahwa tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Beranilah memiliki visi untuk menggapai impian yang besar. Buktikan bahwa kamu dapat menembus batasan itu dan tidak pernah mempedulikannya. Visi adalah bagian dari hidupmu dan hidupmu hanya ditentukan oleh Sang Pencipta dan dirimu sendiri.

Tidak perlu syarat apapun agar diperbolehkan memiliki sebuah visi, tapi untuk membuatnya menjadi kenyataan, kamu membutuhkan sederetan langkah dan milestones untuk ditempuh. Kerana bagaimanapun Visi ditambah Visi ditambah Visi ditambah Visi dan seterusnya hingga Visi Pangkat Tujuh Ratus Tigapuluh Dua pun tidak akan menghasilkan apa-apa selain otak jago ngayal.

Jadi ketika visi itu sudah ada, jangan pernah merasa puas. Visi hanya tetap menjadi visi jika tidak dibarengi dengan AKSI untuk menggapai visi tersebut. Aksi adalah kombinasi komitmen, perencanaan dan strategi yang harus kamu lakukan supaya visimu bukan sekedar masturbasi yang indah saja. Kamu harus bisa menerjemahkan visi besarmu ke dalam bagian-bagian kecil praktis yang bisa kamu lakukan setiap harinya.

Kamu bisa meraih visi kehidupan kamu inginkan, tapi perjalanan ke sana harus dimulai dengan Aksi yang nyata. Kebanyakan dari kita hanya suka mengumpulkan motivasi dan pengetahuan saja, lalu ketika tiba waktunya untuk turun ke lapangan, kita mendadak malas dan memilih hanya melakukannya dalam pikiran saja sehingga hal itu tidak menghasilkan apa yang diangan-angankan.

Berusahalah mewujudkan visi-visimu melalui aksi demi aksi yang gigih dan pantang untuk menyerah. Milikilah mainset yang tepat untuk mencapai visi itu, maksimalkan apa yang ada padamu, manfaatkanlah waktu yang ada, berjuanglah dengan kesungguhan hati, dan yang terpenting adalah pantaskanlah dirimu di hadapan Tuhan melalui sikap hidupmu sehingga kamu layak menerima segala karuniaNya dan terus mintalah kepadaNya apa yang kami inginkan karena hanya Dialah yang empunya segala-galanya di dunia ini.

Dan akhirnya jangan tunggu lagi untuk mulai aksi menuju impianmu. Lakukanlah saat ini juga. Apapun keinginan dan pilihanmu, lakukan sekarang juga, demi masa depanmu.




Read more ►
 

Copyright © Naza's Inspiration Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger