Selasa, 23 Agustus 2011

Elang dan Kalkun

0 komentar

Konon disatu saat yang telah berlalu, Elang dan Kalkun adalah burung yang menjadi teman yang baik. Dimanapun mereka berada, kedua teman selalu pergi bersama-sama. Tidak aneh bagi manusia untuk melihat Elang dan Kalkun terbang berseblahan melintasi udara bebas. Suatu hari ketika mereka terbang, Kalkun berbicara pada Elang, “Mari kita turun dan mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Perut saya sudah keroncongan nih!”. Elang membalas, “Kedengarannya ide yang bagus”.

Jadi kedua burung itu melayang turun ke bumi, melihat beberapa binatang lain sedang makan dan memutuskan bergabung dengan mereka. Mereka mendarat dekat dengan seekor sapi. Sapi ini tengah sibuk mekan jagung, namun sewaktu memperhatikan ada Elang dan Kalkun sedang berdiri dekat dengannya, Sapi berkata, “Selamat datang, silakan cicipi jagung manis ini”. Ajakan ini membuat kedua burung ini terkejut. Mereka tidak biasa jika ada binatang lain berbagi soal makanan dengan mereka dengan mudahnya. Elang bertanya, “Mengapa kamu bersedia membagikan jagung milikmu bagi kami?”. Sapi menjawab, “Oh, kami punya banyak makanan di sini. Tuan Petani memberikan bagi kami apapun yang kami inginkan”.

Dengan undangan itu, Elang dan Kalkun menjadi terkejut dan menelan ludah, lalu ikut makan dengan sapi. Sebelum selesai makan, Kalkun menanyakan lebih jauh tentang Tuan Petani. Sapi menjawab, “Yah, dia menumbuhkan sendiri semua makanan kami. Kami samasekali tidak perlu bekerja untuk makanan”. Kalkun tambah bingung, “Maksud kamu, Tuan Petani itu memberikan padamu semua yang kamu ingin makan?”. Sapi menjawab, “Tepat sekali! Tidak hanya itu, dia juga memberikan pada kami tempat untuk tinggal”. Elang dan Kalkun menjadi syok berat! Mereka belum pernah mendengar hal seperti ini. Mereka selalu harus mencari makanan dan bekerja untuk mencari naungan.

Ketika datang waktunya untuk meninggalkan tempat itu, Kalkun dan Elang mulai berdiskusi tentang situasi ini. Kalkun berkata pada Elang, “Mungkin kita harus tinggal di sini. Kita bisa mendapatkan semua makanan yang kita inginkan tanpa perlu bekerja. Dan gudang yang di sana cocok dijadikan sarang seperti yang telah pernah kita bangun. Disamping itu saya telah lelah bila harus selalu bekerja untuk dapat hidup”. Elang juga goyah dengan pengalaman ini, dan dia menjawab, “Saya tidak tahu tentang semua ini. Kedengarannya terlalu baik untuk diterima. Saya menemukan semua ini sulit untuk dipercaya bahwa ada pihak yang mendapat sesuatu tanpa memberi imbalan. Disamping itu saya lebih suka terbang tinggi dan bebas mengarungi langit luas. Dan bekerja untuk menyediakan makanan dan tempat bernaung tidaklah terlalu buruk. Pada kenyataannya, saya menemukan hal itu sebagai tantangan yang menarik”.

Akhirnya, Kalkun memikirkan semuanya dan memutuskan untuk menetap, dimana ada makanan gratis dan juga naungan. Namun Elang memutuskan bahwa ia amat mencintai kemerdekaannya dibanding menyerahkannya begitu saja. Ia menikmati tantangan rutin yang membuatnya hidup. Jadi setelah mengucapkan selamat berpisah untuk teman lamanya Si Kalkun, Elang menetapkan penerbangan untuk petualangan baru yang ia tidak ketahui bagaimana kedepannya. 


Semuanya berjalan baik bagi Si Kalkun. Dia makan semua yang dia inginkan. Dia tidak pernah bekerja. Dia bertumbuh menjadi burung gemuk dan malas. Lalu suatu hari dia mendengar istri Tuan Petani menyebutkan bahwa Hari Raya Thanksgiving akan datang beberapa hari lagi dan alangkah indahnya jika ada hidangan Kalkun panggang untuk makan malam. Mendengar hal itu, Si Kalkun memutuskan sudah waktunya untuk minggat dari pertanian itu dan bergabung kembali dengan teman baiknya, Si Elang. Namun ketika dia berusaha untuk terbang, dia menemukan bahwa ia telah tumbuh terlalu gemuk dan malas. Bukannya dapat terbang, dia justru hanya bisa mengepak-ngepakkan sayapnya. Akhirnya di Hari Thanksgiving keluarga Tuan Petani duduk bersama menghadapi daging Kalkun panggang besar yang sedap.


Apa implikasinya dalam hidup kita?
Ketika kita menyerah pada tantangan hidup dan memilih berada dalam “zona aman”, kita sedang menyerahkan KEMERDEKAAN kita dan kita akan menyesalinya setelah segalanya berlalu dan tidak ada KESEMPATAN lagi.

“Selalu ada keju gratis dalam perangkap tikus”.

Sumber: Majalah M-Times Makassar edisi September – Oktober 2011.

Read more ►

Refleksi: Arah Bangsa

0 komentar
Kecewa melihat aksi anggota-anggota kongres PSSI baru-baru ini. Melihat hal itu terbesit dalam pikiran saya bahwa para revolusioner PSSI tak ada bedanya dengan Pimpinan PSSI terdahulu yang keras kepala dan hanya mementingkan dirinya dan kelompoknya saja. Mereka punya banyak argument yang memang terdengar benar, tapi itu hanya menjadi tameng bagi mereka untuk menutupi bahwa inti dari segala-galanya adalah bahwa mereka hanya mencari kepentigan diri sendiri. Ini menunjukkan bahwa ternyata gerakan revolusi di PSSI tidak membuat PSSI lebih baik dari sebelumnya. Justru membuat keadaan semakin kacau-balau.

Dari kejadian di Kongres PSSI itu saya flashback pada kejadian sekitar 12 tahun yang lalu saat terjadi aksi reformasi di Indonesia. Melihat kenyataan kehidupan berbangsa sekarang ini, saya melihat bahwa reformasi di PSSI sekarang ini tak jauh beda dengan reformasi besar-besaran Indonesia 12 tahun yang lalu. Baru-baru ini salah satu lembaga survey, menyimpulkan bahwa rata-rata rakyat Indonesia ingin kembali lagi ke masa Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto. Mengapa ingin kembali ke masa Orde Baru?? Alasannya sudah bisa diduga, tak lain adalah masalah ekonomi. Masa Orde Baru lalu, Indonesia bahkan sempat dijuluki macannya Asia karena pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat. Di Orde Baru keamanan terjamin, tidak ada aksi radikal dari kelompok-kelompok tertentu. Sekarang, di Era Reformasi ini justru sebaliknya. Kita tidak diperhitungkan lagi di kawasan Asia. Perekonomian bangsa belum bisa lepas dari efek krisis moneter pada 1998. Banyak BUMN yang dijual ke pihak asing (misalnya Indosat yang dijual ke perusahaan telekomunikasi Qatar). Terjadi banyak aksi radikalisme di banyak daerah. Parahnya lagi, sekarang ini rasa nasionalisme warga Indonesia semakin berkurang.

Bicara soal nasionalisme, saya teringat pada salah satu Bapak Pendiri Bangsa, yakni Bung Karno. Bicara-bicara soal Bung Karno, tentu pastinya tak lepas dari era kepemimpinannya di Orde Lama yang juga direvolusi dan akhirnya diganti dengan Orde Baru. Saya pernah melihat tayangan di TV (tepatnya di Metro TV, pada acara dalam rangka kebangkitan nasional) yang dimana tayangan itu menunjukkan bahwa jumlah utang negara di Era Orde Baru lebih besar dibanding di Era Orde Lama. Di Era Orde Baru rakyat mengeluh akan kepemimpinan Soeharto yang diktator. Jadi bisa disimpulkan, revolusi dari Era Orde Lama ke Orde Baru tetap saja menimbulkan masalah bahkan membuat jumlah masalah yang lebih banyak lagi. Bagaimana tidak, di Era Orde Baru banyak sekali terjadi pelanggaran HAM. Banyak nyawa orang tak berdosa yang dikorbankan dengan alasan menjaga stabilitas negara. Hal inipun yang disesali oleh Soe Hok Gie, mahasiswa UI yang ikut andil dalam demonstrasi revolusi kala itu. Dalam bukunya,  Catatan Sang Demonstran, Gie bercerita bahwa dia menyesal telah membiarkan Orde Baru berkuasa di Indonesia. Di awal Era Orde Baru banyak terjadi pembunuhan massal kepada para pengikut PKI kala itu. Terjadi pembunuhan yang semena-mena. Dan hal ini menunjukkan bahwa revolusi kala itu gagal mencapai salah satu tujuannya yakni untuk mencipkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sudah terjadi dua kali revolusi di negara ini. Di tiap revolusi pastinya terjadi pergantian era. Terjadi pergantian generasi dalam susunan struktural negara, baik di eksekutif, lagislatif maupun yudikatif. Tapi persoalan negara semakin bertambah-tambah. Bahkan parahnya, bangsa ini semakin kehilangan jati dirinya. Nasionalisme tinggi yang ditunjukkan bangsa ini pada zaman penjajahan sampai pada awal kemerdekaan semakin lama semakin pudar di generasi-generasi selanjutnya. Indonesia dijerat akan perilaku apatis dari warga negaranya sendiri. Era Orde Baru yang dikenal sebagai Era KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) tak jauh beda dengan Era Reformasi. Korupsi tetap saja merejalela meskipun sudah ada KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Sepertinya KKN sudah “mengakar” dan menjadi budaya di negara ini.

Pertanyaannya sekarang, mengapa hal itu terjadi?? Mengapa keadaan bangsa ini tidak pernah berubah walaupun telah terjadi lima kali pergantian kekuasaan/presiden?? Terjadi perubahan struktural negara, tapi perilaku Pemerintah (eksekutif), DPR (legislatif), dan hakim/jaksa (yudikatif) tidak juga berubah. Zaman berubah kok menjadi lebih susah??

Dari pertanyaan – pertanyaan perenungan di atas, saya bisa simpulkan bahwa REVOLUSI YANG TERJADI SELAMA INI HANYA REVOLUSI YANG SIA – SIA. REVOLUSI MENJADI SIA – SIA BUKAN KARENA TUJUAN DARI REVOLUSI INI YANG SALAH, tapi karena INKONSISTENSI SI REVOLUSIONER ITU SENDIRI. Orang-orang dulunya idealis terhadap tujuan revolusi tersebut tidak konsisten akan tujuan revolusinya dahulu. Ketika kekuasaan telah menjadi miliknya, dia terbuai akan kenyamanan dan keserakahan dari kekuasaan tersebut. Tanggangung jawab sebagai penenentu kebijakan-kebijakan negara di pundaknya malah dijadikan sebagai ajang pemenuhan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Jadi jangan heran jika pada tahun ’98 mahasiswa yang dulunya sangat idealis menurunkan Soeharto justru ketika dia telah menjadi anggota DPR/DPRD atau masuk dalam pemerintahan di Era Reformasi ini tidak menghasilkan apa-apa.

Dimasa pemilu maupun pemilukada, banyak janji yang terucap tapi hanya sedikit yang terealisasi. Rakyat dibodoh-bodohi. Hufftt… bangsa ini benar-benar terbelenggu akan kemunafikan belaka. Mengapa seakan-akan kurang sekali orang yang bisa dipercaya yang bisa membawa bangsa ini menuju keadaan yang lebih baik??

Salah satu jawabannya menurut hemat saya adalah sistem pendidikan moral / sistem kaderisasi yang salah di negara ini. Saya melihat hal itu terjadi di kampus saya. Masih mahasiswa saja kita sudah diajar untuk curang, membodohi-bodohi dan pintar beretorika dalam membuat hal yang benar menjadi salah dan sebaliknya. Pada saat prosesi pengkaderan mahasiswa baru (maba), maba-maba yang masih polos menjadi santapan para senior-senior pengkader dalam mendapatkan keuntungan dirinya. Proses pembodohan nampaknya mulai dipraktekkan dalam proses kaderisasi tersebut. Dimana si kuat (senior) membodohi si lemah (maba). Demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan mahasiswa bahkan ada beberapa yang ditunggangi oleh kepentingan pihak tertentu. Mahasiswa kehilangan idealisme yang sejatinya yakni yang berlandaskan kemurnian. Makanya jangan heran jika kelak mehasiswa-mahasiwa yang seperti itu menjadi penentu kebijakan, mereka tidak akan membuat perubahan ke arah yang lebih baik, yang bisa terjadi justru sebaliknya.

Bagaimana bisa menjadi generasi-generasi yang membawa pembaharuan bagi bangsa jika selama mahasiswa saja sudah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu, misalnya nyontek agar bisa memperoleh nilai yang bagus. Dalam prosesi pengkaderan melakuakan pembodohan terhadap maba (kaum lemah). Melakukan demonstrasi “berlebihan” yang membuat jalan macet, menganggu dan merusak fasilitas umum.

Inilah yang semestinya menjadi perenungan kita bersama, khususnya bagi teman-teman, pemuda-pemudi bangsa ini sebagai bagian dari masa depan bangsa. Jika kita ingin mengubah bangsa ini ke arah yang lebih baik maka perubahan tersebut mesti dimulai dari diri kita sendiri, dimulai dari hal-hal yang kecil, dan mulailah saat ini (kalimat terakhir ini dikutip dari AA Gym hehe..).

Jayalah Indonesia!!!

Read more ►
 

Copyright © Naza's Inspiration Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger